Workshop SPGDT Pra Hospital Digelar di Semarang, RS Samsoe Hidajat Jadi Salah Satu Mitra Kolaborasi

Semarang, 8 Agustus 2026 — Ruang Aula Edelweiss RS Keluarga Sehat III Semarang dipadati tenaga medis dari berbagai fasilitas kesehatan di Semarang, Sabtu, 8 Agustus 2026. Mereka datang untuk mengikuti workshop klasikal bertajuk “SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat) Pra Hospital”, yang diselenggarakan Smart Emergency and Training Center (SETC), lembaga diklat yang telah terakreditasi A oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB ini digelar bekerja sama dengan RS Mata JEC Candi @ Semarang, RS Keluarga Sehat III Semarang, dan Rumah Sakit Samsoe Hidajat, dan dapat diikuti secara gratis oleh tenaga medis yang telah memiliki akun Satu Sehat SDMK.

Dibuka Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang

Workshop ini turut dihadiri Dr. dr. Mochamad Abdul Hakam, Sp.PD, FINASIM, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang yang juga berlatar belakang dokter spesialis penyakit dalam. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kesiapan tenaga medis dalam menangani kondisi kegawatdaruratan sejak fase pra hospital, sebelum pasien tiba di fasilitas kesehatan. Kehadiran beliau menjadi penanda dukungan pemerintah kota terhadap upaya peningkatan kompetensi tenaga medis di Semarang melalui pelatihan-pelatihan semacam ini.

Workshop SPGDT Pra Hospital Digelar di Semarang, RS Samsoe Hidajat Jadi Salah Satu Mitra Kolaborasi
Dr. dr. Mochamad Abdul Hakam, Sp.PD, FINASIM

Setelah sesi pembukaan, acara dilanjutkan dengan sesi klasikal yang dipandu dr. Yonathan Ardhana Christanto, M.K.M. sebagai moderator, menghadirkan empat dokter spesialis yang masing-masing membawa perspektif berbeda dalam menangani kegawatdaruratan pra hospital.

dr. Yonathan Ardhana Christanto, M.K.M
dr. Yonathan Ardhana Christanto, M.K.M

Bergantung pada Kecepatan Bertindak

dr. Ariapriyoga Rheza Mahendra, Sp.OG membuka sesi materi dengan membahas kegawatan pada maternal, salah satu kondisi yang menuntut kecepatan sekaligus ketepatan penanganan. Pendarahan pasca melahirkan, kejang pada kehamilan, hingga gawat janin adalah beberapa contoh situasi yang menurutnya kerap terjadi tanpa banyak waktu untuk berpikir. Peserta diajak memahami langkah-langkah awal yang bisa dilakukan sebelum pasien tiba di rumah sakit, di mana setiap menit yang terlewat bisa berarti perbedaan antara selamat dan tidak.

dr. Ariapriyoga Rheza Mahendra, Sp.OG
dr. Ariapriyoga Rheza Mahendra, Sp.OG

Sesi berikutnya membawa peserta pada dunia yang jauh lebih kecil, namun sama rentannya: bayi baru lahir. dr. Priskila Tania Damitrias, Sp.A memandu peserta memahami tatalaksana kegawatan pada anak, sekaligus mengajak mereka mempraktikkan langsung teknik resusitasi neonatus. Bukan sekadar mendengarkan teori, peserta bergiliran mempraktikkan langkah demi langkah menyelamatkan napas pertama seorang bayi, sebuah keterampilan yang mungkin tidak sering dipakai, namun begitu krusial saat dibutuhkan.

dr. Priskila Tania Damitrias, Sp.A
dr. Priskila Tania Damitrias, Sp.A

Usai istirahat sejenak, giliran dr. Aulia Faris Akbar Pulungan, Sp.PD mengangkat isu kegawatan pada geriatri. Pasien lanjut usia, jelasnya, kerap datang dengan lebih dari satu kondisi medis yang saling bertumpuk, membuat penanganan awal menjadi lebih rumit dibanding kelompok usia lain. Sesi ini turut dilengkapi praktik bantuan hidup dasar (BHD), keterampilan universal yang idealnya dikuasai setiap tenaga medis, apa pun spesialisasinya.

dr. Aulia Faris Akbar Pulungan, Sp.PD

Menutup rangkaian materi, dr. Michael Mawi, M.Biomed., Sp.B membawa peserta pada kasus-kasus trauma, mulai dari kecelakaan lalu lintas hingga cedera akibat insiden lain yang datang tanpa peringatan. Ia menekankan bahwa penanganan awal yang tepat di lokasi kejadian sering kali menjadi penentu utama peluang kesembuhan pasien, jauh sebelum mereka menjalani perawatan lanjutan di ruang operasi.

dr. Michael Mawi, M.Biomed., Sp.B

Kompetensi yang Dibawa Pulang Peserta

Bagi peserta yang hadir, workshop ini bukan sekadar ajang menambah sertifikat. Empat sesi yang disusun berurutan, dari maternal, anak, geriatri, hingga trauma, memberi gambaran menyeluruh bahwa kegawatdaruratan bisa datang pada siapa saja, di usia berapa saja, dan dalam bentuk apa saja. Sesi-sesi praktik seperti resusitasi neonatus dan bantuan hidup dasar turut memastikan peserta pulang tidak hanya dengan pemahaman baru, tetapi juga keterampilan yang siap dipakai.

Bagi Rumah Sakit Samsoe Hidajat, kesempatan menjadi salah satu mitra dalam penyelenggaraan workshop ini merupakan bagian dari komitmen mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia kesehatan di Kota Semarang, sekaligus mempererat jejaring kolaborasi antarfasilitas kesehatan dalam penanganan kegawatdaruratan.