Bahaya Abu Vulkanik bagi Saluran Pernapasan, dari ISPA hingga Silikosis

Saluran pernapasan adalah organ yang paling sering terdampak saat abu vulkanik menyebar di udara. Menteri Kesehatan Republik Indonesia sendiri telah menyebutkan bahwa paparan abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, hingga sesak napas, serta memperberat kondisi pada penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Artikel ini membahas lebih dalam mengapa saluran pernapasan begitu rentan terhadap abu vulkanik, gejala yang perlu dikenali, serta langkah perlindungan yang bisa dilakukan.
Kenapa Abu Vulkanik Mudah Mengganggu Pernapasan
Abu vulkanik terdiri dari partikel yang sangat halus, sebagian bahkan berukuran mikroskopis. Ukuran inilah yang membuat partikel abu bisa terhirup masuk hingga ke saluran pernapasan bagian dalam tanpa selalu terasa atau terlihat oleh mata. Partikel abu vulkanik juga cenderung memiliki permukaan yang kasar dan mengandung silika, sehingga dapat mengiritasi lapisan mukosa di sepanjang saluran napas begitu bersentuhan.
Semakin lama dan semakin sering seseorang terpapar udara dengan konsentrasi abu tinggi, semakin besar pula jumlah partikel yang berpotensi terhirup dan mengendap di saluran pernapasan.
Gejala Gangguan Pernapasan Akibat Abu Vulkanik
Gejala yang paling umum muncul akibat paparan abu vulkanik dikenal dengan istilah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Gejalanya meliputi pilek, hidung berair, batuk kering atau berdahak, sakit tenggorokan, serta rasa sesak pada dada. Pada sebagian orang, gejala ini muncul secara ringan dan membaik dengan sendirinya setelah paparan berkurang. Namun, pada orang dengan kondisi pernapasan yang sudah ada sebelumnya, gejala dapat berkembang lebih berat dan membutuhkan penanganan medis.
Kelompok yang Perlu Lebih Waspada
Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pernapasan yang lebih berat akibat abu vulkanik. Kelompok tersebut meliputi anak-anak, karena saluran napasnya masih dalam tahap perkembangan, lansia, ibu hamil, serta orang dengan riwayat penyakit pernapasan kronis seperti asma dan PPOK, maupun penyakit jantung. Kelompok ini disarankan untuk lebih membatasi aktivitas di luar ruangan selama abu vulkanik masih terkonsentrasi tinggi di udara.
Risiko Jangka Panjang bagi Saluran Pernapasan
Selain gejala yang muncul dalam waktu singkat, paparan abu vulkanik yang mengandung silika secara berulang dan intensif dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan risiko silikosis, yaitu penyakit paru kronis akibat penumpukan partikel silika di jaringan paru dari waktu ke waktu. Kondisi ini umumnya dikaitkan dengan paparan yang terjadi secara terus-menerus dalam periode yang lama, misalnya pada lingkungan kerja tertentu, bukan dari paparan singkat selama satu periode erupsi. Meski demikian, membatasi paparan abu vulkanik sebisa mungkin tetap menjadi langkah pencegahan yang dianjurkan bagi siapa pun.
Cara Melindungi Saluran Pernapasan dari Abu Vulkanik
Beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi jumlah partikel abu yang terhirup ke saluran pernapasan.
Gunakan masker yang menutup rapat area hidung dan mulut, terutama masker dengan filtrasi baik seperti N95 atau KN95, saat harus beraktivitas di luar ruangan. Kurangi aktivitas luar ruangan selama konsentrasi abu masih tinggi, dan pastikan jendela serta pintu rumah tertutup rapat untuk mencegah abu masuk ke dalam ruangan. Bagi penderita asma atau PPOK, pastikan obat pengendali gejala selalu tersedia dan mudah diakses selama masa erupsi berlangsung.
Setelah berada di luar ruangan, segera bersihkan diri dan ganti pakaian untuk mengurangi partikel abu yang mungkin masih menempel dan berisiko terhirup kembali di dalam rumah.
Kapan Gejala Pernapasan Perlu Diwaspadai
Sebagian besar gejala pernapasan akibat abu vulkanik bersifat ringan dan membaik seiring berkurangnya paparan. Namun, segera periksakan diri ke tenaga medis apabila muncul sesak napas yang berat, nyeri dada, napas berbunyi atau mengi, batuk yang tidak kunjung membaik dalam beberapa hari, atau gejala asma yang memburuk meski sudah menggunakan obat pengendali. Pembahasan lebih lengkap mengenai kondisi apa saja yang perlu segera diperiksakan dapat dibaca pada artikel Kapan Harus ke Dokter Akibat Paparan Abu Vulkanik.
Saluran pernapasan menjadi organ yang paling perlu diperhatikan selama abu vulkanik masih menyebar di udara. Mengenali gejala sejak dini dan menerapkan langkah perlindungan yang tepat dapat membantu mengurangi risiko gangguan yang lebih berat. Untuk pembahasan dampak abu vulkanik secara menyeluruh, silakan simak artikel Abu Vulkanik dan Dampaknya bagi Kesehatan.
Jika Anda atau keluarga mengalami keluhan pernapasan akibat paparan abu vulkanik, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga medis di RS Samsoe Hidajat.
Artikel ini disusun oleh Tim Edukasi PKRS RS Samsoe Hidajat.
